Headlines News :
Home » » Ibukota dan isinya

Ibukota dan isinya

Written By Syukur Muhammad on 18 May 2010 | 5:57:00 PM

Hari ini berakhir dengan rasa lelah yang menggunung, hari-hari yang cukup berat, berat utk di bayangkan... tapi hidup tidak hanya bayangan semu, hidup adalah kenyataan yang harus di jalani, apapun keadaannya!  Sejak pagi, ibukota telah menampakkan hiruk pikuk nya kehidupan masyarakat disini, jalanan yang macet, orang yang terburu-buru ke tempat kerja, kampus dll, menambah pengap udara pagi yang telah di cemari polusi pabrik dan kendaraan... pemandangan yang selalu menjadi sarapan pagi manusia-manusia metropolitan. tapi semua itu tidak terlalu berpengaruh untuk orang berdasi yang duduk di dalam mobil mewah ber-AC, duduk dengan tenang sambil baca koran, acuh dengan keadaan di sekitar nya yang sangat kontras dengan kondisinya saat ini. itulah ibukota negeri ini... JAKARTA!

Pagi ini, saya memulai aktifitas seperti biasa, dengan motor, saya telusuri jalan macet menuju tempat saya bekerja di lenteng agung. Dalam kondisi seperti ini, saya sulit sekali menemukan raut wajah yang tersenyum manis, semua orang seperti dalam ketegangan menjalani kehidupan yang bergerak begitu cepat. Mereka berlomba dengan waktu yang membuat toleransi adalah tindakan aneh di tengah kepadatan kota Jakarta.
08.10wib sampai juga di kantor, hari ini lebih cepat dari biasa nya (biasanya baru nyampe jam 09.30wib) seiring matahari yang terus meninggi dan panas nya semakin menyengat, saya memulai kewajiban saya di dalam ruangan ber-AC dengan komputer yang terkoneksi jaringan internet. klik mozilla firefox, ketik URL website. Selanjutnya masuk ke Menu >> All Program >> sorot Yahoo Messenger lalu klik, sekarang hidup saya berpindah ke dunia maya, berinteraksi dengan orang-orang yang tidak pernah saya temui, tidak pernah saya kenal sebelum nya, tapi saya berkomunikasi dengan mereka... sangat nyata, sangat rileks dan pastinya sangat berbeda dengan wajah-wajah yang ada di jebakan macet sepanjang jalan tadi. Kondisi ini semakin membuat saya enggan beranjak untuk kembali ke dunia nyata yang "complicated", yang tidak ada lagi keramahan, tidak ada lagi toleransi. saya lebih suka disini (di dalam layar kotak yang bisa membawa saya kemana saja yang saya mau).

Tak terasa matahari sore telah merubah langit tampat jingga, saya harus menutup pintu ajaib di hadapan saya dengan meng-klik shutdown, lalu berkemas untuk ke kampus, memenuhi kewajiban saya yang lain, menimba ilmu, memperkaya pengetahuan. Kini kuda besi yang setia telah mengantarkan saya sampai di kampus (di salemba - jakarta pusat, berjarak 18km dari lenteng agung). Sedikit lega karena tahu dosennya belum datang, dan saya punya kesempatan untuk foto-copy tugas proposal sebelum di serahkan kepada dosen. Antrian poto-copy yang begitu panjang, membuat para mahasiswa (termasuk saya) tampak seperti ibu-ibu dan anak kecil yang sedang antri pembagian sembako dan subsidi dari pemerintah. Dan sekali lagi, saya menemui wajah-wajah tegang dan kesal tersirat di mata mereka yang ketakutan dosennya tidak mengijinkan mereka masuk karena telat.

melihat kondisi seperti ini, saya lebih memilih mengeluarkan buku dari tas dan membaca nya, biarkan masalah antrian ini di selesaikan oleh teman kelompok saya, selamat berjuang kawan, selamat ngotot-ngototan, hehe. Sambil membaca buku yang saya pegang, sesekali saya melihat ke meja foto-copy, saya mendapati proposal saya lecek, entah kenapa, lalu saya bertanya dengan nada datar kepada mas-mas tukang foto-copy nya. "Mas, koq cover nya jadi keriput gitu?" saya membuka percakapan, teman sekelompok saya terlihat sangat kesal dan kecewa karena proposal kami jadi terlihat berantakan. Mas-mas tersebut meminta maaf dan menawarkan utk di foto-copy ulang, tapi teman yang sudah terlanjur kecewa berkata dengan nada kesal “gak usah mas, saya udah buru-buru kelamaan nunggu disini”. Ntah kenapa tiba-tiba saya tertawa dan melihat semua itu sebagai hal yang lucu, saya tertawa karena telah menggunakan kata “keriput”. Suatu ungkapan yang sangat tidak tepat untuk menggambarkan kertas yang lecek, dan sangat tidak sesuai, tidak ada korelasi yang menghubungkan kata “keriput” dengan kertas. Saya terus tertawa membayangkan apa yang telah saya ucapkan sambil berkata “gak apa-apa mas, biarin aja keriput” tentunya dengan tetap tertawa, semua orang yang ada disitu pun ikut tertawa, mas-mas nya juga ketawa geli, menertawakan kecerobohan dan kebodohan dirinya sendiri.

Seketika suasana kaku seperti kanebo kering itu mencair, persis seperti kanebo yang kena air. Wajah tegang yang tidak bersahabat tadi mendadak terlihat ramah, senyum mereka seakan berkata “Wellcome” persis seperti tulisan di karpet yang ada di depan mall. Tidak lama kemudian, mas-mas nya berkata “gitu donk, pada senyum, jadi saya kerjanya rileks dan gak panik, biar hasilnya bagus” tukang poto-copy itu berujar sambil terus menjalankan tugass nya sambil nyengir-nyengir. Satu pelajaran yang saya dapat, Senyum, tindakan kecil yang mampu mencairkan suasana.

Sambil melangkah menaiki tangga menuju lantai 4 gedung fakultas ilmu komunikasi, saya mendapatkan 1 hal bahwa “senyum mampu meringankan beban orang lain” lalu kenapa mereka pelit sekali untuk menebar senyum yang kenyataan nya “gratis dan tidak merugikan”

Kuliah selesai, presentasi berlalu dengan baik, perasaan lega menyelimuti hati. Seperti biasa, saya selalu lewat tangga untuk turun ke lantai 1 (males desak-desakan di lift). Sambil menyapa teman-teman yang santai duduk di taman kampus seperti orang yang enggan kembali ke rumah, saya berjalan menuju parkiran motor, ambil helm dan meluncur pulang dengan perut lapar yang menghujam ulu hati, (hari ini saya baru makan 1 kali, hanya makan siang tanpa sarapan pagi). Jalur pulang agak lengang, motor melanju dengan kecepatan rata-rata 70km/jam, cukup santai.

Di persimpangan jalan saya berhenti melihat lampu lalu lintas berwarna merah, sontak para bocah di bawah umur berlarian menghampiri para pengendara, mereka menadahkan tangan meminta belas kasihan dari orang yang mempunyai nasib lebih baik dari mereka. Tampak di hadapan saya seorang bocah menadahkan tangan ke arah kaca mobil mewah yang tertutup rapat, saya memperhatikan pemandangan itu, seraya bertanya dalam hati, apakah orang di dalam mobil itu akan membuka kaca dan mengeluarkan tangan dengan uang 1.000 rupiah? Atau setidak nya 500rupiah logam yang menurut saya, bagi mereka itu tidak ada artinya. Karena kendaraan di hadapan saya bergerak maju, saya ikut maju sebelum di klakson tanpa ampun oleh pengendara di belakang.

Sesekali saya melirik ke arah spion motor, tampak anak kecil itu masih menadah sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil mewah tersebut, tapi pemilik nya tidak menghiraukan itu. Tak lama kemudian, 3 anak kecil tak berdosa itu berdiri di samping saya dan berkata “Om, minta uang donk” saya mengeluarkan dompet, lalu temannya berkata, “3 orang om”. Pas sekali, 1 lembar pecahan 1.000 rupiah dan 1 lebar pecahan 2.000 rupiah saya berikan kepada mereka. Sambil tersenyum bocak itu berkata “terima kasih om”, senyum yang mengmbang dalam wajah kusam karena seharian di lampu merah. Mereka berlalu dan duduk di pinggir trotoar sambil membagikan kepada 2 orang temannya dengan adil, masing-masing 1.000. saya melihat mereka dari Spion, lalu salah satu dari mereka melambaikan tangan ke arah saya sambil berteriak “terima kasih om....!!!” saya tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arah mereka.

Lampu masih tetap merah, tidak lama kemudian ada seorang laki-laki menegur saya, “Mas, klo di kasih duit terus, sama saja kita mendidik mereka untuk terus menjadi pengemis!!!” saya menoleh ke arah laki-laki tersebut sambil membuka kaca helm, “peraturan pemerintah melarang kita memberikan uang kepada pengemis di jalan, itu untuk mendukung proses pengentasan kemiskinan, klo melanggar kena denda mas” laku-laki itu melanjutkan. Mendengar perkataan itu saya menoleh ke arah anak kecil itu… melihat mereka, melihat nasib yang telah membawa mereka ke jalan. Saya tidak menjawab lelaki itu, saya malas berargument membicarakan masalah negara yang saya sendiri tidak paham mau kemana arah nya. Sekarang yang saya rasakan hanya perasaan yang berkecamuk dalam hati saya.

“Para pejabat negara ini punya rencana untuk mengentaskan kemiskinan, tapi tidak pernah ada bentuk kongkrit dari teriakan-teriakan mereka saat kampanye, kenyataannya, masih bertebaran pengemisdan gelandangan di jalan. Yang saya lakukan hari ini hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan hari ini, sekarang, di jalan ini, kepada anak-anak ini… saya tidak mengajarkan mereka untuk terus begini, saya hanya berbagi sedikit apa yang saya miliki, saya hanya menukar uang 1.000 rupiah dengan sebuah senyuman dari mereka, senyum dari generasi penerus bangsa yang terabaikan”
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Inisial-S Blog - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template